Diketahui bahwa iblis memiliki kehidupan hampir sama dengan manusia,
seperti makan, tidur, memiliki anak dan istri. Lantas, siapa istri yang
menjadi pasangannya? Kisah ini akan menjelaskan kehidupan makhluk selain
manusia dimana akan mengajarkan kita kehidupan dunia ini.

Islam adalah agama yang paling sempurna. Banyak pihak yang ingin
menghancurkan agama ini dengan melontarkan berbagai pertanyaan tak masuk
akal dan terkesan menyudutkan. Tapi tak usah khawatir. Selagi hati
tenang maka pikiran akan dapat menjawabnya dengan tepat sehingga tidak
menimbulkan fitnah pada nantinya.
Kisah ini bermula ketika Imam asy-Sya’bi berjalan dengan istrinya. Kedua
pasangan ini terlihat bersemangat sambil bercengkrama. Tidak lama
kemudian, seseorang datang menghampiri kedua pasangan ini. Mereka sudah
terbiasa mendapatkan pertanyaan dari kaum Muslimin karena sejak kecil
sudah tinggal di Madinah dan menjadi seorang imam yang faqih dan alim.
Lelaki itu menyampaikan sebuah pertanyaan yang unik tanpa menyebutkan
nama terlebih dahulu. Ia bertanya siapa nama istrinya iblis?
Jika beliau tidak memiliki pemahaman yang dalam, akal yang jernih,
rohani yang bersih, dan akhlak yang mulia bisa saja ia menjawabnya
dengan kemarahan. Lelaki itu menyampaikan pertanyaan yang aneh dan
terkesan menguji kemampuan sang imam yang sempat berguru pada 50-an
sahabat Nabi Muhammad SAW.
Meskipun pertanyaannya terkesan aneh dan membuat marah tetapi beliau
menjawabnya dengan jenaka dengan tidak bisa disela. Beliau menjawab
dengan menambahkan senyuman bahwa ia tidak diundang dalam walimah iblis.
Mungkin tidak hanya laki-laki itu, kita juga berharap jika sang imam
menjawabnya dengan jawaban yang tidak pernah terpikirkan sama sekali
tapi jawaban itu mematikan.
Jawaban yang jenaka ini tidak hanya sekali beliau lontarkan. Diketahui
bahwa beliau sempat berguru langsung dan sangat mengidolakan ‘Abdullah
bin Mas’ud yang terkenal dengan jenaka intelektualnya.
Kisahnya, terdapat seseorang yang melontarkan pertanyaan, apabila ia
mandi di sungai maka kemana ia harus menghadap? Menghadap kiblat atau
membelakanginya atau ke arah mana? Kemudian ia melanjutkan jika ia tidak
mengetahui arah kiblat lalu sebaiknya ia harus menghadap kemana saat
mandi di sungai?
Tanpa mencari apa maksud si pemuda itu, apakah ia sungguh ingin tahu
atau hanya menguji kemampuan sang Imam. Lantas apa jawaban yang akan
diberikan oleh sang Imam pada laki-laki itu?
Jawaban yang diberikan adalah lebih baik menghadap pada pakaian yang
ditanggalkan saat mandi ke sungai. Hal ini bertujuan agar pakaian itu
tidak diambil orang atau hanyut dengan arus sungai. Apabila pakaian itu
hanyut atau hilang maka aurat tidak lagi bisa ditutupi.
Jawaban yang cerdas dan tidak terbantahkan. Inilah salah satu ciri orang
shalih secara lisan maupun perbuatannya. Mereka mempunyai pemahaman
yang dalam sehingga dapat berpikir secara cepat, menelaah secara jernih,
dan mengaplikasikannya pada perbuatan sehari-hari pada sesama.
Kisah pertanyaan mengenai keluarga iblis ini mengajarkan kepada kita
untuk menjadi seorang muslim yang berakal dan berilmu. Selain itu, tidak
semua ilmu atau informasi dapat disampaikan dan dapat dipahami oleh
setiap orang. Jawaban akan lebih mudah diterima dengan menyisipkan humor
tapi jawabannya juga masuk akal. Meskipun pertanyaan yang dilontarkan
terkesan hanya menguji kemampuan atau menyudutkan, akan lebih baik jika
kita menjawabnya dengan hati tenang. Apabila kemarahan tercampur saat
itu, maka yang keluar bukanlah jawaban yang dapat diterima tapi
memunculkan permusuhan.
0 komentar:
Posting Komentar